Kala Langit Berdarah

Rambut merahnya berkibaran tertiup angin. Panjang dan meliuk-liuk sehingga tampaknya bagai kobaran api, menyaingi warna langit senja itu. Matahari yang mulai menghilang di horizon mewarnai langit dengan semburat merah. Seperti berdarah.
                Senja seperti ini selalu menjadi kesukaan Gerard. Tapi hari ini, tepatnya tiga bulan terakhir ini, gadis pemilik rambut merah dihadapannya selalu mengalihkan perhatiannya dari pedihnya warna matahari. Mata hijau zambrudnya seperti menghipnotis Gerard, membuatnya melewatkan saat-saat terakhir matahari di penghujung hari. Padahal yang dilakukan Lovisa, gadis itu, hanyalah berbicara. Malah hanya diam menatap Gerard, menunggu lelaki itu berkisah sementara ombak menyapu kaki mereka.
                Gerard tahu. Ia tahu sejak pertama kali tenggelam dalam hijau matanya di pantai ini. Ia tahu bahwa Lovisa memang diciptakan untuk dirinya. Dibentuk dari salah satu rusuknya. Bagaimana? Ia juga tak tahu. Ia hanya merasakannya. Lovisa membuatnya takjub dan semakin takjub setiap hari selama sebulan. Terkadang rasanya mengerikan bagaimana gadis itu bisa mengerti Gerard lebih baik daripada lelaki itu mengenal dirinya sendiri. Bagaimana ia dapat menebak telak setiap suara di kepala Gerard. Gerard ingin memberi Lovisa hatinya sendiri. Tapi hati itu hilang dibawa Elisha. Dan Gerard takut Elisha tak akan pernah lagi mengembalikan hatinya.
***
Gerard mengacak rambut hitamnya dengan gelisah. Menunggu jawaban keluar dari bibir mungil bidadari tersayangnya. Gadis cantik itu bertingkah sedikit aneh akhir-akhir ini. Seperti agak menjauh. Gerard merasa ada takut menghantui dirinya. Takut gadis itu meninggalkannya.
“Maaf. Ini juga bukan kemauanku. Orang tuaku yang tidak menyetujui hubungan kita.” Elisha berbisik pelan, menunduk. Rambut pirang ikalnya menutupi wajah. Menutupi air mata, mungkin.
Gerard terduduk lemas di pasir yang basah. Derak hatinya terdengar lebih keras daripada suara ombak menghempas karang. Darah yang membanjiri perasaannya lebih pekat daripada warna merah langit senja. Mata birunya kering. Berkaca-kacapun tidak. Ia begitu kacau sehingga kelenjar air matanya lupa cara bekerja. Seluruh bagian di tubuhnya mendadak lumpuh.
Elisha. Elisha-nya yang selalu ia banggakan. Elisha yang membenci langit senja, namun tetap menemani Gerard ke pantai setiap lembayung sore muncul. Elisha yang lebih suka menunggunya di belakang panggung ketimbang bersorak bersama penonton yang lain saat Gerard asyik menggebuk drum bersama bandnya. Elisha yang selalu cemberut manja saat Gerard membelikannya regular coke dan bukannya diet coke. Elisha yang pertama kali membuat Gerard merasakan jatuh cinta sesungguhnya untuk pertama kali.
Kini Elisha-nya berbalik pergi. Meninggalkan Gerard sendirian bersama hatinya yang hancur. Bersama seluruh hidupnya yang terasa porak-poranda dalam sekejap.
***
“Elisha?” Kata Lovisa datar. Ekspresinya tak dapat ditebak
Gerard tersentak. Lovisa selalu bisa mengenainya telak. Seperti membaca pikirannya. Sering sekali Lovisa mendapati Elisha bermain-main di kepala Gerard. Saat itu terjadi, ia akan berhenti bicara. Atau mendadak pergi. Sebelum akhirnya menghampiri Gerard lagi, mengisi kosong harinya.
                “Kamu lebih baik daripada Elisha. Ia tidak mengerti aku sebaik kamu.”
                “Ya. Tapi kita tidak pernah mencintai karena mereka yang terbaik, bukan?” Balas Lovisa sambil tersenyum. Ia tak pernah marah. Gerard mengerti sekaligus ketakutan. Mengerti karena Lovisa tidak bisa dibilang kekasihnya dan ketakutan kalau-kalau Lovisa hanya akan lewat sambil lalu dihidupnya. Kesabaran gadis itu abnormal.
                “Gerard?”
                “Eric?” Gerard tampak kaget luar biasa. Ekspresinya bagai melihat seseorang yang telah mati tiba-tiba muncul dihadapannya. Sejak putus dari Elisha, ia tak pernah bertemu dengan kakak gadis itu.
                 “Sedang apa sendirian saja? Sejak kamu putus dari Elisha, aku tidak melihatmu lagi. Kira-kira sudah setahun ya?”
                Aku tidak sendiri. Aku tidak sendiri. Lovisa. Ada Lovisa. Akan selalu ada.
                “Oh, ya... Uh.. Berarti lama tak bertemu bahkan sebelum kami berpisah. Aku berpisah dengannya enam bulan lalu.”
                “Lho? Tapi Elisha sudah berhubungan dengan Ray, kira-kira sembilan bulan. Katanya ia sudah putus denganmu waktu itu.”
                Ray. Mengundurkan diri sebagai gitaris band Gerard sembilan bulan lalu. Selama itu pula Gerard belum bertemu lagi dengannya. Tubuhnya lemas. Rasanya seperti menghujamkan pisau di luka infeksi menahun. Bayangan enam bulan lalu itu menghantui dirinya lagi dengan sangat jelas. Setiap detil kecilnya seperti diputar ulang dikepala Gerard. Lembayung. Suara ombak. Suara derak hatinya. Rambut indah Elisha yang menutupi wajahnya. Ia tahu sekarang, itu untuk menutupi ketiadaan air mata di mata coklatnya yang sempurna.
                Sentuhan di tangannya membawanya kembali ke masa sekarang. Lovisa. Ia membantunya bertahan beberapa saat lagi sebelum emosinya tak tertahan, mebuat Gerard bertahan menghadapi Eric beberapa detik lagi sebelum lelaki itu pergi. Lovisa seperti tidak terkejut, ia seperti sudah tahu ini akan terjadi. Namun Gerard tetap menangkap kilatan benci di sepasang mata zamrud itu.
                Senja itu, kala langit berdarah, fondasi yang selama ini Gerard bangun kembali sejak Elisha pergi runtuh lagi. Dunianya hancur sekali lagi. Rasanya seperti ingin berlari ke tengah laut. Dan ia pasti melakukannya jika Lovisa tidak ada disana. Lovisa seperti biasanya, berbicara panjang lebar, menahan Gerard pada kenyataan, membantu lelaki itu menggunakan akal sehatnya. Dan Gerard tidak perlu mengatakan apa-apa, Lovisa sudah tahu semuanya.
***
                Senja itu langit kembali menampakkan warna merahnya. Seperti di hari-hari tertentu. Persis sama seperti setahun lalu, dan setengah tahun sebelumnya.
                Gerard berjalan-jalan sendirian di pantai. Menikmati pemandangan favoritnya. Setelah sekian lama, akhirnya ia dapat kembali menemukan kesenangan dari memandangi lembayung sore. Saat langit bersemburat merah. Pedih. Menyimpan berbagai memori memilukan hati. Namun Lovisa menjaganya tetap waras hingga Gerard menata hidupnya kembali.
                Seorang gadis berambut semerah api berjalan sendirian, Gerard mendekatinya. Mereka mengucap salam perkenalan.
                “Gerard.” Ucapnya memperkenalkan diri
                “Aku...”
                “Lovisa, kan?”
                “Bagaimana kamu tahu?”
                “Rasanya aku sudah pernah bertemu kamu.” Gerard tersenyum, menanti saat-saat ia kembali tenggelam dalam hijau zamrud mata gadis itu. Kali ini secara nyata.

0 komentar:

Post a Comment