Lintang Kartika


“Yang itu ursa mayor. Artinya...”

“Beruang besar. Lalu yang itu Ursa Minor.”

“Ya, beruang kecil.”

“Anaknya.”

Tony tertawa kecil. Sebulan ini hampir setiap Ia dan Michelle berbaring bersebelahan diatas pasir putih, membiarkan gulungan ombak menyapu kaki-kaki telanjang mereka, dan memandangi langit hitam pekat yang bertabur ratusan bintang. Terkadang, Tony lupa memandangi cantiknya bintang dan malah menekuni wajah Michelle.

Suatu malam yang begitu dingin namun cerah tak terkira, setelah Tony selesai membantu ayahnya menyiapkan perahu nelayan, Michelle datang. Tubuh langsingnya terbalut celana panjang longgar bewarna abu-abu pucat dan di sekeliling pundaknya terlilit mantel wool hitam. Rambut hitam panjangnya dijalin dalam satu kepang, tersampir di bahu kanannya, dan terlilit pita keperakan. Kulitnya yang pucat seakan memendarkan cahaya perak seperti bulan.

Michelle menghampiri Tony dan tersenyum hangat, tidak mengatakan apapun selain namanya. Tony, yang setiap inci tubuhnya membatu layaknya korban Medusa, akhirnya berhasil memperkenalkan namanya dengan terbata-bata. Sejak itulah, setiap malam tidak berawan, mereka akan berbaring berdampingan. Bertukar cerita atau kadang hanya terdiam dengan pandangan terpaku ke langit.

“Ursa Mayor berguna sebagai penunjuk jalan di malam hari, kau tahu, untuk pelaut atau nelayan.” Jelas Tony tanpa melepaskan pandangannya dari Michelle

“Callisto.” Kata Michelle lemah.

“Hmm... Salah satu bulan Jupiter?”

“Ya. Tapi bukan. Kamu tahu cerita tentang dewa-dewi Yunani, Tony?”

“Sedikit.”

“Callisto pengikut Dewi Artemis. Ia diharuskan jadi perawan selamanya, dilarang jatuh cinta sama sekali, pokoknya tidak boleh dekat-dekat lelaki. Semua pengikut Artemis harus begitu.” Mata keabuan Michelle dibayangi kesenduan.

“Aku mendengarkan.”

“Namun Zeus jatuh cinta pada Callisto. Sang Penguasa Langit menggoda Callisto sampai akhirnya Ia melahirkan seorang putra, Arkas. Artemis marah besar dan mengusir Callisto” Michelle menghela napas panjang lalu melanjutkan, “Lalu Ratu Hera juga marah besar atas perselingkuhan suaminya, Ia mengubah Callisto jadi beruang. Arkas hampir membunuh beruang itu. Akhirnya Zeus merasa kasihan dan mengirim ibu dan anak itu ke langit, di antara bintang-bintang.”

“Ursa Mayor dan Ursa Minor” Kata Tony.

Michelle tak menjawab. Ia seolah sedang berada di tempat lain. Sesaat mereka hanya terdiam, mendengarkan deburan ombak menghantam karang. Selalu seperti itu. Ada saat-saat dimana Michelle tenggelam dalam sesuatu. Sesuatu yang tidak diketahui Tony. Setelah pikirannya kembali, gadis itu akan...

“Tony, aku harus pergi.” Michelle bangkit begitu tiba-tiba. Tony tidak lagi terkejut karena selalu seperti itu akhir dari setiap pertemuan mereka. Michelle memeluk Tony cepat, mengacak rambut coklat pemuda itu, dan mengecup keningnya.

“Besok, jika cerah, kau pasti datang lagi kan?” Tanya Tony.

“Ya.” Michelle menelengkan kepalanya sedikit, matanya terpejam, “Ya, besok pasti cerah.”

Kecupan singkat mendarat di pipi Michelle sebelum akhirnya gadis itu tergesa, menghilang dari pandangan begitu cepatnya seakan ada yang mengejar. Tony memandangi tempat hilangnya gadis itu selama beberapa saat, kemudian berbalik pulang, bersiap memimpikan gadis misterius yang baru saja pergi itu.
***

Matahari  belum sepenuhnya tenggelam ke balik horizon namun Tony sudah siap menunggu Michelle. Ia tahu gadis itu tidak akan muncul sebelum bumi gelap seluruhnya dan bintang-bintang menampakkan pendarnya. Tony sudah tidak sabar untuk menemui Michelle lagi. Tidak pernah Ia merasa serindu ini.

Memandangi  Surya yang siap pergi menyinari belahan dunia lain, lamunan Tony melayang mengingat setiap pertemuannya dengan Michelle. Mereka bisa berbicara tentang semua hal. Michelle entah bagaimana dapat mengetahui kebiasaan-kebiasaan Tony, bahkan kadang membaca pikirannya. Saat Tony bertanya bagaimana Ia dapat melakukan itu, Ia hanya menampakkan senyumnya dan bilang,”Aku memperhatikan.”

Tony mulai berpikir bahwa ini saatnya Ia membuat Michelle lebih membuka diri. Ia hanya tahu Michelle baru saja pindah dari tempat yang jauh bersama saudari-saudari yang jumlahnya banyak. Titik. Padahal, Michelle mengenal Tony bagai temandari masa kecil.

“Tony! Tony!”

“Michelle? Kau sudah datang? Tapi ini masih... Kamu kenapa?”

Wajah Michelle menyiratkan kecemasan yang mendalam. Dipeganginya kedua tangan Tony kuat-kuat.

“Aku... Kita... Tidak akan bertemu lagi.”

“Apa? Mana bisa? Kamu mau kemana?”

“Untung belum terjadi apa-apa padamu. Jangan cari aku, Tony. Lupakan semuanya.”

“Tapi... kenapa? Ada apa?”

Michelle memotong kalimat Tony dengan sebuah ciuman lembut dibibirnya. Sepasang mata abu-abu itu kini mulai digenangi air mata.

“Aku mencintaimu. Tapi itu seharusnya dilarang.”

Dengan itu, Michelle berlari meninggalkan Tony yang dilanda rasa bingung dan takut. Ia sama sekali tidak menoleh.

“Michelle! Tunggu”

Kaki-kaki Tony bergerak secepat yang Ia bisa. Ia tidak akan pernah mau melepaskan Michelle begitu saja. Apalagi seperti ini, tanpa mengerti. Namun tiba-tiba secercah cahaya perak muncul disamping sosok Michelle. Begitu terangnya hingga membutakan visi Tony.

Sesaat kemudian, semua gelap.
***

“Tidak. Jangan dia, Yang Mulia! Jangan! Aku saja!”

“Kamu tahu peraturannya!”

“Tapi dia tidak tahu, Yang Mulia! Ini salahku, semua salahku.”

“Aku kecewa sekali, Michelle. Kamu yang terbaik. Tapi kau menipuku untuk menemui lelaki itu. Kau tidak akan seberuntung Callisto.”

“Aku tahu, Yang Mulia. Maafkan aku. Tapi kumohon jangan Tony, wahai Dewi.”

“Mulai sekarang kau akan meninggalkan kelompok pengikutku.”

Michelle sudah tidak dapat menjawab lagi. Ia tidak dapat berbicara lagi. Michelle memandang pantulan dirinya di tiara bulan milik Sang Dewi Perburuan. Seekor rusa betina memandang balik kepadanya.

Tony pernah bilang, penduduk pantai berburu rusa setahun sekali.

3 komentar:

  1. bagus mix ngedeskripsiin detailnyaaa!
    tapi kenapa judulnya Lintang Kartika?

    ReplyDelete
  2. Lintang Kartika teh sebutan Ursa Mayor di Jawa :D

    ReplyDelete
  3. oahaha sip deh. terus berkarya yaa naomix! =D

    ReplyDelete