Naval



Naval adalah secangkir coklat panas di bulan Desember. Melumer begitu menyentuh bibirmu, gelenyar manis memenuhi relung mulutmu. Ia adalah rasa hangat yang merambat di seluruh tubuh dan rasa gembira di hatimu saat cairan pekat yang manis pahit itu melewati kerongkongan kemudian mengisi perut kosongmu.

Harum tanah saat tetes hujan yang pertama jatuh, bahkan tetes pertama hujan itu sendiri, itulah Naval. Rasa segar yang melemaskan otot kakumu, membuat bibirmu melengkungkan senyum. Naval adalah melodi tetesan hujan di payungmu, angin dingin yang membelai ringan wajahmu, bahkan mantel tebal yang membungkus tubuhmu.

Naval adalah buku yang kau cari-cari di setiap jengkal toko buku, lalu akhirnya kau temukan di rak terujung, diantara buku-buku bersampul mengkilap,sedikit terselimuti debu. Tapi kau tahu betapa berharga cerita di dalamnya. Cerita indah penuh mimpi dan petualangan. Batu mulia tertutupi kerikil, terlewat oleh mata telanjang, anugerah bagi yang menemukannya. Itulah Naval

Naval adalah sebuah kotak diantara tumpukkan kado. Meski tidak begitu berbeda dari kotak lain, kau tahu kau hanya menginginkan kotak itu. Tidak ada yang tahu apa isinya, namun kau tahu itulah yang kau cari untuk memenuhi seluruh kebutuhanmu.

Aku? Aku adalah Charlie yang hanya dapat menghirup aroma coklat dalam-dalam sambil mencengkeram pagar pabrik Willy Wonka. Si Kurus yang menatap anak-anak dengan tubuh sehat bertimbun lemak, Si Kurus yang menelan ludah saat menatap jari-jari gemuk mereka yang tak hentinya menjejali mulut dengan permen.

Aku adalah tanaman hampir layu di kebun yang dilupakan orang. Kering kerontang, terpanggang surya setiap hari. Perlahan melupakan bagaimana rasa air menjalari akar-akarku, melupakan segarnya tetesan embun di dedaunanku. Gersang dan panas, merindu sentuhan basah tetesan hujan.

Aku adalah gadis kecil berkepang dua dengan kacamata kebesaran membingkai wajah. Teman-temanku adalah kisah-kisah tentang negeri yang ditinggali naga dan putri cantik, para ksatria berjuang di medan perang. Gadis kecil itu menatap orang lain membawa buku langka berdebu yang selama ini diidamkannya. Gadis kecil itu hanya dapat menelan ludah, menyesali diri karena kurang cepat bertindak. Gadis kecil itu adalah aku.

Aku adalah orang yang memegang sekotak kado. Kado yang tidak aku tahu apa isinya, tapi aku tahu aku menginginkannya, membutuhkannya. Tapi kado itu bukan milikku. Kado itu milik seseorang yang cukup berani untuk meminta. Pada akhirnya, kurelakan jari-jariku melepas kotak indah yang terbungkus kertas emas itu. Diam saat melihat kotak itu diambil dari tanganku.

Aku adalah dia yang terlalu penakut namun terlalu lancang.

Aku adalah dia yang mendamba Naval.

1 komentar:

  1. Bagus naomi,, navalnya sukaa deh hahahaha

    ReplyDelete