Menjadi Perempuan, Menjadi Kita, Menjadi Aku


Bukankah membedakan antara lelaki dan perempuan adalah tidak adil, namun juga tak terhindari? Harus merapatkan tungkai-tungkai kaki dan dilarang terbahak dengan kepala terlempar ke belakang. Gunakkan tangan berjari gemulai itu untuk menuang teh panas aroma melati! Tidak, jangan terlalu banyak berbicara. Perhiasan adalah untuk dipandang dan dinikmati jelitanya, bukan untuk didengar. Kelak namanya mati. Daranya hilang dan nama suami mendefinisinya. Namun seorang dara tanpa lelaki adalah sia-sia.

Menjadi perempuan, menjadi kita di zaman kini bukan lagi burung berbulu warna-warni yang terkurung di sangkar. Setara dengan laki-laki, katanya. Jika perempuan sama dengan lelaki, menjadi kita bukan sekedar jiwa-jiwa dalam wujud cantik. Menjadi perempuan berarti bisa mengejar mimpi, menjadi kita berarti keluar dari bayang-bayang dan berdiri sendiri dibawah cahaya.

Jika perempuan sama dengan lelaki, berarti selain kita sama dengan mereka, mereka juga akan sama dengan kita. Menjadi perempuan berarti wajah tertekuk dan alis keriting menahan perih perut setiap bulan saad darah haid berlomba lari keluar rahim. Menjadi perempuan adalah sembilan bulan membawa kehidupan dengan hidup kita taruhannya. Menjadi perempuan berarti lemah sehingga harus terlindung. Menjadi kita berarti kuat dan keras. Seperti tiara di kotak kaca berlapis beludru. Rapuh namun berharga. Jika lelaki sama seperti perempuan, mereka harus dilindungi dan diistimewakan untuk hal-hal yang tidak mereka alami. Bukankah menjadi setara juga malah tidak adil?

Menjadi aku berarti merasa kalah karena malah memiliki cawan bukan pedang. Menjadi aku awalnya tidak terasa istimewa, malah diremehkan.
Namun lalu menjadi aku adalah anugerah. Karena kamu. Karena kamu berbeda dari aku. Karena kamu, aku belajar perbedaan yang mustahil disetarakan namun sulit dibedakan dengan adil adalah sempurna. Karena kamu, aku tahu menjadi perempuan adalah spesial dan lelaki adalah luar biasa. Benar ternyata, Tuhan yang mustahil salah itu ada.

Menjadi aku adalah karunia. Karena jika aku tidak diciptakan menjadi perempuan, menjadi kami, aku tidak bisa mencintaimu seperti ini. Cintaku untukmu bukan cinta seperti ini, jika aku menjadi sepertimu.

0 komentar:

Post a Comment