Tuhan, Aku, dan Kamu


Aku suka berbicara pada Tuhan saat makhluk-makhluk lain sudah mendengkur dengan kelopak mata memejam. Aku akan bergelung di bawah selimut, menyilangkan lengan di dada, dan menekankan lututku hingga keram. Kemudian berbisik-bisiklah aku, bercerita pada Tuhan tentang setiap kejadian yang aku alami dari awal aku membuka mataku pagi tadi, hingga terbaring dalam temaram.

Padahal, bukannya Tuhan tidak tahu. Bukankah Dia sutradara dan aku aktornya?

Semua perbincanganku dengan Tuhan adalah rahasia antara aku dengan-Nya. Dia senantiasa mendengarku berulang-ulang, padahal cerita-ceritanya Dia yang mengarang. Tuhan benar-benar pendengar yang baik, sampai aku begitu sering lupa untuk mendengar-Nya. Aku dipenuhi diriku sendiri. 

Aku. Terlalu angkuh. 

Mungkin Tuhan sering memandangku geli, karena aku makhluknya yang lucu. Sama seperti seorang ibu yang memperhatikan anaknya berjalan untuk pertama kali. Merasa paling bisa melangkah lalu menolak dituntun. Kemudian menjeritkan tangis saat tersandung.

Seperti aku, bantalku sering jadi basah di penghujung hari-hari buruk. Lalu Dia tetap mendengarkanku. Tetap digantung-Nya purnama terang nan megah di tengah langit malam untuk menghiburku. Tetap Dia dengarkan ceritaku. Tetap dirajutkan-Nya jalanku untuk bertemu keajaiban di setiap sudutnya. Merajutkan jalanku untuk menjalin dengan punyamu di satu lilitan. 

Dan aku. Lupa Diri. 

Aku selipkan namamu dalam doa. Kuminta kamu pada-Nya. Kuungkapkan rasa yang disimpan dalam diam tapi memaksa. Pujian akan indahnya bentuk mata serta bibirmu. Rindu pada suara serta panas yang menguar dari kulitmu. Kasih yang kukirim tanpa ketahuan ke setiap mimpimu. 

Sampai suatu malam, di tengah senandungku akan arti hadirmu aku, terasa tertohok di ulu hati. 

Tuhan masih mendengarkan ceritaku yang berhenti di tengah jalan, ketika aku merasa malu perlahan. Dengan lembut, Dia belai kepalaku yang dari kemarin dulu terus membesar. Belaian itu terasa seperti air dingin. Mengejutkan lagi menyejukkan. 

Puja-pujaan yang tadinya untukmu berganti alamat. Kutujukan pada-Nya. Diiringi sesal dan maaf, juga sipu yang dalam. Lidahku berdoa tapi apa pantas potongan daging tak suci itu meminta? Tapi lalu jika ia berhenti meminta, sehebat apa aku hingga pantas berdiri sendiri? Padahal kamu adalah hadiah dari-Nya. Entah untuk suatu hari kupunyai seluruhnya, atau boleh kucicipi untuk kini saja. 

Bagaimana bisa aku mencintai suatu makhluk, saat mencintai Penciptanya saja aku masih terbata-bata?

Dan aku ingin belajar mengenal Tuhan seperti Dia sabar memberikan kasih-Nya yang tidak putus. ingin mencintai-Nya dengan semangat sayangku padamu. Mungkin jika kamu dan aku nanti tidak saling mengisi di suatu halaman pada naskah-Nya, kekasihku masih tetap dan akan selalu Dia. Lalu Dia akan kirimi aku kamu-kamu yang lain. Kamu-kamu yang salah satunya dapat mengisi kosongku dengan nyaris sempurna.

Sekarang, tentu. Masih kuselipkan kamu dalam ceritaku pada Tuhan. Sambil aku memuji-Nya. Sambil aku pinta kasih-Nya untukmu. Sambil tanpa mendesak, mendambamu.

Aku ingin kamu. Ingin kita. Karena Dia.

0 komentar:

Post a Comment