Kedai Kopi




Jika ada hal yang membuatku benar-benar jatuh dalam suka, selain pada langit dan coklat pahit, adalah kedai kopi yang sunyi. Kedai kopi kosong dan deretan kursinya yang melompong, menemani sepiku yang duduk sendiri di sudut dekat jendela. Sebuah buku tebal untuk dibaca dan secangkir teh rempah yang cemburu karena bibirku terlalu asyik bergerak menyusuri kalimat daripada ditempelkan pada bibir cangkir dan menyesap, padahal kepulan asap telah lama lenyap. 

Seringkali, hidup terlalu banyak ditelaah sehingga malah kehilangan kesederhanaannya yang eksentrik. Disini, di kedai kopi yang buyar sudah efek magisnya (semua kursi terisi penuh dan terlampau gaduh) aku juga mungkin akan bercerita tentang hal klise itu. Bukankah sesungguhnya, itu mengapa kita terus-menerus membahas kehidupan? Tak peduli berapa banyak pengulangan mengenai hidup, tak pernah ada peristiwa yang betul-betul serupa. Hidup, selayak kedai kopi ini (yang lebih mirip toko cindera mata, entahlah...), tampak membuat penat karena terlalu banyak pengunjung, padahal ada banyak cerita berbeda yang bisa dicuri dengar dari setiap meja. Ada bercangkir-cangkir kopi yang dapat kau biarkan pahit atau kau tambahkan susu, sirup, atau gula sesuai seleramu. 

Dan pada akhir hari, sebuah kedai kopi tetaplah kedai kopi. Pesonanya hanya sembunyi dan tidak lari. 

Kita sendiri, mungkin adalah sebuah kedai kopi. Pengunjungnya datang dan pergi. Bisa jadi mereka suka resep rahasia sang barista atau malah jatuh hati pada dekorasi berlanjut tenggelam dalam empuknya sofa-sofa. Lalu ada yang jadi pecandu, datang setiap hari, diam berjam-jam tanpa kenal bosan lalu pulang dengan enggan. Ada pula yang bilang kedai sebelah punya menu lebih enak, tidak lagi mampir di hari kemudian. 

Aku punya banyak pelanggan setia. Beberapa dari mereka pindah keluar kota sehingga hanya dapat datang sewaktu-waktu. Sebagian lainnya bertandang nyaris setiap hari atau setiap minggu. Salah satu kesenanganku adalah melihat mereka merasa nyaman di kedaiku. Cukup nyaman untuk menitipkan rahasia dan berbagi bahagia, untuk membisikkan kesah dan melepas resah. Cukup nyaman untuk saling menentramkan

Kamu. Salah satu pelanggan setiaku. 

Salah satu yang mau minum jenis kopi apapun yang kusodorkan dibawah hidungmu. Menyesap mereka pelan-pelan lalu terus terang tentang kopi mana yang paling sedap dan mana yang harus kuracik ulang. Itu sebabnya, tangan-tanganmu mungkin telah membantuku menggiling dan menyeduh biji-biji kopi sehingga mereka menghasilkan aroma yang tepat, dengan rasa yang nikmat. Itu pula mengapa, kedai kopi-ku selalu merindukan kehadiranmu di salah satu pojoknya. 

Pada detik-detik yang akan tiba setelah ini, mungkin kedai kopiku tidak akan sesering itu mendapati hadirmu. Bisa jadi ada kedai kopi baru yang menjadi kegemaranmu (seperti saat ini, bukankah kita punya banyak tempat kesukaan). Pada menit-menit selanjutnya kita akan berjarak kira-kira tiga jam dan sembilan puluh mil. Dan walaupun itu membuatku dilipur lara, namun aku juga merasa bangga. Bukankah kau memang selangkah lebih jauh dari pintu kedaiku, namun selangkah lebih dekat dengan mimpi-mimpimu? 

Kamu juga tahu, bahwa aku payah dalam menampung rindu, dan kamu akan selalu jadi seorang tamu yang kutunggu. Aku juga tahu, jarak yang tidak seberapa tidak akan merenggangkan kita, dan pada setiap kunjunganmu kelak akan ada lebih banyak cerita. 

Akan datang pula aku ke kedaimu, segera setelah aku selesai meramu kopi yang tengah kucari tahu formulanya dan kemudian pergi mencari biji lain unyuk diolah. Perburuan kita tidak pernah akan selesai. Kini, biar harapan-harapan kecilku menenjadi kawanmu di perjalanan. Semoga kamu berhasil temukan cinta dan jemput impian. Semoga lembut dan murni kedaimu tidakbangkrut dilumat realita. Kedai kopimu adalah salah satu tempat favoritku. 

Betapa kelak, malam-malam panjang dengan perbincangan dalam yang sering mengawang-ngawang tidak akan sekerap sekarang. Aku akan mengingat dan menantinya, seperti caraku menyukai aroma akrab yang menguar dari sekaleng biji kopi di dasbor mobilmu. 

Ingat, ini sama sekali bukan perpisahan. Ini kesepakatan untuk suatu hari duduk bersama lagi di kedai kopi. Untuk mengizinkan lidah berdosa demi selintas gunjingan, sekadar bercanda, atau serius bercakap. Lalu kopi kita kita akan cemburu pada bibir-bibir yang malah sibuk bertukar kisah dan bukan menyesap mereka yang mulai kehilangan kepul asapnya.

- semoga hanya kopi berkualitas terbaik yang dihasilkan kedai kecilmu .




**
Tulisan ini terutama didedikasikan kepada Bejenk Atmantjik, semoga berhasil dan betah di tempat baru.

Dan kepada semua teman yang pernah berkunjung. Mereka yang telah hilang selamanya: Terima kasih telah mampir. Mereka yang masih menjadikanku salah satu destinasi: Terima kasih telah setia menemani.

0 komentar:

Post a Comment