Candra dan Baskara



Eclipse drawing from “Fourteen Weeks in Descriptive Astronomy” by J. Dorman Steele, 1873


Rasa iri terhadap satu sama lain tidak lahir di awal mula, ketika keduanya baru menjadi. Di awal riwayat, yang satu adalah pelengkap bagi yang lain. Mereka adalah kaum langit yang pertama, yang pada prolog eksistensinya dikisahkan tentang anugerah kemegahan. Sebuah pesona yang menyihir semesta sebagai dua sosok terelok di bumantara, betara dan betari yang terbangun dari cakrawala. 

Sang Dewa, Baskara, begitu perkasa serta gagah. Setiap hari diarunginya angkasa dari timur ke barat. Ia berjalan perlahan, memastikan tidak ada bahkan satu manusia pun yang tidak menyadari kehadirannya. Tentu tak perlu ia bersusah payah, sebab binar disekujur raganya benderang tiada tara.  Sungguh cahaya terang itu adalah nafas dunia. Karenanya mata jadi fungsi dan pepohonan sehat berisi. Sang pujaan dikelilingi para penghuni galaksi. Tanpa Baskara, warna-warni tak lebih dari sekedar impian dan tak ada tempat bagi para makhluk untuk mempercayakan kehidupan. 

Begitu kuatnya binar Baskara hingga jatuh pula sinarnya pada tubuh Candra, yang melentingkannya dengan anggun jelita.

Sang Dewi, Candra, tak berkitaran di sekitar Baskara. Ia mendapat tempat di Singgasana Malam, terbangun saat makhluk lain tengah terpejam. Ia hadir dalam diam, tersenyum pada kelam. Tidak seperti Baskara yang berbalut kemewahan, Candra rupawan dengan sederhana. Kesederhanaan Candra adalah mantra. Jiwa-jiwa yang berkelana juga ketujuh samudera takluk dibawah kerajaannya. Ia mendengar rahasia-rahasia yang tak terkatakan menjadi teman bagi mereka yang kesepian.

Untuk cahaya yang dicuri selewat petang serta pesona diri yang terbangkang, Baskara tumbuh cemburu pada Candra.
Untuk keagungan yang lantang serta fungsi bagi seisi jagad yang senantiasa berkumandang, Candra jadi iri pada Baskara.
 

Maka mereka tidak menguasai langit secara bersama-sama. Salah satu menghilang saat yang lain datang. 

Namun ada waktu-waktu, dimana pertemuan keduanya tak terhindarkan. Ketika itu sumur-sumur ditutup dan dongeng-dongeng diceritakan. Doa-doa dipanjatkan dan ilmu pengetahuan diberitakan. Makhluk bumi kalang kabut saat Baskara dan Candra bersemuka. Kemudian insan-insan mulai menyuarakan ramalan akan musibah lalu menyesali dosa, cemas jika raja dan ratu langit akhirnya saling murka. 

Baskara meneriaki Candra yang perlahan-lahan menghampiri tubuhnya. Memakan pendar sosoknya hingga ia nyaris sekelam tahta Sang Dewi. Tak mau diakuinya, bahwa dirinya senang pula sesungguhnya saat Candra datang mendekat. Bukankah ia rindu sanjungan manusia-manusia segala penjuru yang hanya berani menatapnya saat Candra menghalangi? Bukankah ia menanti-nanti kedatangan Candra padanya setelah biasanya tak pernah bahkan sekadar melempar kerling? 

Apa berarti manusia sebenarnya memuja Candra dan bukan aku?

Apa aku hanya merindukan Candra? 

Candra mengutuki keangkuhan Baskara yang tampak berapi-api (ah, bukankah selalu?) entah gusar akan pertemuan mereka, entah girang akan semua tatapan anak-anak Adam itu. Tatapan kagum namun segan, karena bahkan sekarang saat Candra menghalau sedikit sinarnya, Baskara masih terlampau benderang. 

Mereka mencintaimu, Baskara. Kau hanya terlalu sombong untuk membiarkan mereka bertabrak pandang denganmu. Kalau saja mereka memuliakanku selayak padamu.

Jangan berubah, Baskara. Bukankah kupelihara kirana perakmu pada badanku sendiri. Kalau saja aku tidak terlanjur kesal pada pongahmu. 

Tapi jika kita tidak saling membenci, gerhana tidak akan pernah pergi, dunia ini bisa gagal beroperasi.

Langit belum akan robek dan bumi belum akan runtuh, selama Baskara dan Candra masih saling geram (lagi diam-diam saling cinta).

0 komentar:

Post a Comment