Manusia (Dwilogi Lakon Bagian 2)



The Lower Depths at The Moscow Art Theatre,1902 (Credit: Stanislavski Centre/ArenaPal)
Manusia itu makhluk yang ganjil. Sungguh. Moyang kita mungkin pernah berkata bahwa hidup adalah anugerah paling sederhana, yakni lahir, makan serta minum, beranak-pinak, dan senantiasa berbuat derma. Namun kelama-lamaan curiga juga aku bahwa yang dimaksud sama sekali bukan kehidupan manusia. 

Manusia, yang bukan malaikat tidak juga iblis. Dengan embel-embel nafsu yang agak kebinatangan mereka bengis, tapi berpelengkap hati yang lembut serta sarat cinta mereka manis. Para putra adam dan putri hawa, ciptaan kompleks dan penuh lapis.

Sebagaimana seorang lelaki yang aku kenal. Bertubuh gagah dan berkulit susu. Berbola mata tajam, meskipun semakin ditatap binarnya teduh pula. Hidung jambu serta bibir tipis yang seringkali tersembunyi dibalik rambut-rambut dagu. Telah lama lupa aku tentang kapan pertama mengenalnya, bagaimana pertama kali aku menyebut namanya dengan perlahan. Melihat sosoknya seringkali aku dibikin heran.

Suatu kali muncul ia berpakaian solek. Sepatu mengkilat berkalung dasi kupu-kupu. Senyumnya ia tebar-tebarkan dengan murahnya, begitu pula uangnya. Tidak ada anak gadis yang tidak tersihir pesonanya, dan tidak ada pula dari anak dara-dara itu yang luput dari rayu-rayuannya. Kupikir ini lelaki hanya terjaga ketika lewat petang, mungkin tak pernah akan beristri dan seterusnya membujang. Dari kata-katanya langsung kuketahui bahwa ia berpribadi lemah. Melindungi perangai celanya dengan citra adat dan keluarga. Ah, apalah ketampanan dan harta itu tanpa tabiat mulia dan tanggung jawab? 

Sempat lagi ia datang membawa kisah tentang cita-cita. Bertutur halus namun menggebu-gebu ia kisahkan mimpi yang menurut perkiraannya dapat jadi realita. Betapa panjang proses kelahiran kenyataan ideal itu! Meski demikian tidak gentar pun ia akan jalanan terjal penuh ujian itu. Tak peduli orang-orang telah pergi, tak pengaruh walau harus jalan seorang diri. Siapa sangka ia sebenarnya begitu tetap hati? 

Pernah pula ia hadir sebagai alim yang bersarung dan peci. Rajin sembahyang malam dan pagi. Tercengang pula aku melihat ia menjadi pesakitan yang hanya hidup dari cinta. Lalu seorang yang kesepian dan senang mesum. Kemudian seorang yang bebal dan menyebalkan, mengundang kesal tapi juga gelak. Aku tidak yakin lagi, siapa pula lelaki yang kukenal itu? Seperti apa dia yang sebenar-benarnya? Jangankan kehidupan segenap umat manusia, satu orang saja sudah membikin bingung. 

Bertanya juga aku pada akhirnya, mengharap kejelasan dari sosok-sosok yang hadir bergantian pada satu raga yang kukira aku kenal.

“Siapa kamu?”

“Aku manusia.” 

“Dan mereka?” 

“Mereka pun.” 

Kala itu, matanya berpijaran bergelora membahas orang-orang lain yang kupertanyakan itu. Mereka  pribadi-pribadi lain. Manusia-manusia lain yang pernah berkenal-kenalan dengannya. Dari mereka, betapa banyak kisah mengenai hidup yang ia ketahui! Betapa pikiran serta jiwa yang luput dari jamahan dapat disentuh dan dibagi-bagi. Lalu setelahnya dapat pula pikiran serta jiwanya sendiri membelah diri, berbagi bersama kenalan-kenalannya itu, ikut menceritakan cerita-cerita kehidupan agar ramai orang dapat turut tahu. Lelaki ini adalah mereka yang hadir dalam lagak berbeda-beda, namun mereka bukan dia. Lelaki ini adalah pemilik dari sebuah hati yang merasa begitu banyak. Begitu peka. 

“Mereka ini, seperti topeng-topeng kaca milikmu.”

Ah, topeng-topeng kaca milikku. Topeng-topeng kaca yang pernah mencicip realita, yang lahir dari imaji. Mereka tak ubah kenalan-kenalannya itu. Lahir dari imajinasi, dipadu-padan kenangan masa lalu, lantas menjelma hidup ke dunia. Sehidup-hidupnya manusia. 

Kupikir pada akhirnya, yang aneh bukan hanya lelaki yang kukenal ini, tapi juga diriku. Kita semua. Manusia adalah makhluk yang aneh. Berselok-belok. Rumit.  Mengenal diri sendiri membutuhkan waktu yang lama tak terkira, apalagi mengenal orang lain. Namun dapat pula kita mengenal diri dengan cara mengenal orang lain. 

Lalu mengapa kami mau saja berkenal-kenalan dengan jiwa-jiwa anak imajinasi, membikin topeng-topeng kaca, lalu memanusiakan mereka? Ah, jawabannya sangat sederhana. Karena kita sama-sama manusia. 

Begitulah, kesederhanaan hidup memang benar adanya. Saat sebuah kebenaran semakin sederhana, maka makin rumit pula cara pemahamannya.

0 komentar:

Post a Comment