Topeng-Topeng Kaca (Dwilogi Lakon Bagian 1)



The Lower Depths at The Moscow Art Theatre,1902 (Credit: Stanislavski Centre/ArenaPal)

Topeng-topeng kaca itu tampak bergeming di dinding. Jika orang melihatnya, mereka mungkin sukar percaya saat kubilang pernah ada suatu waktu mereka begitu bising. Ah, untukku, betapa pun dingin dan rapuhnya, mereka tak pernah terasa asing. Telah kupastikan, tidak ada yang akan pernah menyaksikan mereka begini hening. 

Sebab disini, di sebuah ruang yang jalan masuknya lebih rumit dari labirin, kupampang mereka seutuh-utuhnya benda separuh. Separuh nyawa mereka tentu saja lenyap bersamaan dengan lepasnya mereka dari aku, si empunya tubuh. Hilang dengan lahirnya topeng baru, kemudian topeng pendahulunya luruh. 

Pun begitu, mereka pernah mencicip realita. Suatu waktu topeng-topeng ini adalah nyata, bukan hanya cerita. Suatu ketika saat mereka meminjam wadahku untuk berkisah dan aku membagi mereka cinta. 

Topeng tertua sudah mulai terlupa, aku begitu muda saat ia muncul dan kucipta. Dia adalah yang pertama, yang membuatku ingin lagi dan lagi membikin topeng baru, meniupkan napas pada mereka. Ah, topeng pertama. Cacat yang ketara karena masih begitu sama dengan wajah milikku sendiri, namun sebuah mula akan jatuh cinta. Topeng-topeng kaca itu, semakin baru, semakin pula bernilai mutu. Perlahan-lahan seiring pelajaran dan perjalanan waktu, semakin jelas pula perbedaan topeng-topeng itu dengan wajahku.

Untuk apa pula aku membuat begitu banyak topeng, apa muka sendiri tidak cukup? Tentunya topeng-topeng itu adalah (atau malah) tujuan (itu sendiri). Pada saat mereka menjelma hidup, sehidup-hidupnya aku yang berdaging dan berdarah, yang menhirup napas, mereka adalah penguasa realita. Saat mereka hidup, dunia adalah miliknya dan bukan milik kita. Kisah adalah kisahnya dan bukan kisah kita.

Saat itulah, jiwa-jiwa yang terlahir dari imajinasi, menjadi jiwa-jiwa paling jujur. Jika sakit maka menangislah ia dalam dunianya yang sunyi. Jika senang maka dendangnya digemakan sambil bernyanyi-nyanyi. Ia bercerita pada kita, jika bukan pada orang-orang yang dikenalnya dari dunianya. Topeng-topeng kaca itu, dunianya adalah yang dunia kita imitasi. Sebab nyaris utopis, memiliki solusi dan konklusi. Padahal sesungguhnya mungkin tidak juga, dunia mereka yang imitasi. Sebuah pelarian dari yang nyata ke yang fiksi.

Keadaan fiksi. Kisah fiksi. Bersamaan dengan topeng-topeng kaca itu aku tinggal di dalamnya, mencipta kebenaran milik pribadi. 

Kupandang-pandangi topeng tertua, perlahan merayap hingga ke yang termuda. Dengan topeng termuda, kusadari bahwa kelama-lamaan justru aku tidak sedang lari, melainkan menyelami.

Sebab disini, di sebuah ruang yang jalan masuknya lebih rumit dari labirin, topeng-topeng kaca ini bukan tanpa arti. Perjalanan lahirnya mereka membikin aku memahami dan mengerti. Mengerti pada sukma-sukma lain selain milikku, pada kehidupan lain selain punyaku. Topeng-topeng kaca ini, mereka sebuah karya seni. Jika bukan untuk ramai orang, paling tidak untukku sendiri.

0 komentar:

Post a Comment