Surat Cinta

Dian Sastrowardoyo & Nicholas Saputra sebagai Rangga dan Cinta dalam Ada Apa Dengan Cinta 2 karya Riri Riza

Malam ini purnama.
Iya, sudah purnama lagi. Purnama yang ke tujuhpuluh dua. Artinya, sudah tujuhpuluh satu kali kamu langgar sebuah kesanggupan. Kamu mau menitipkan salam pada Rembulan? Dia sedang sibuk sembunyi dibalik awan dan guyuran hujan. Ramai orang berkata purnama tidak pernah mangkir untuk hadir setiap bulan, tapi saya kira sekarang ia telah terlalu banyak bergaul dengan kamu.

Sudahlah, saya lama-lama mahir juga melewatkan datangnya bulan penuh tanpa hadirnya kamu. Saya hanya lelah menunggu-nunggu. Bingung pula saat menyapa pagi pada waktu tidurmu, saat terlelap pada terbit mentarimu. Saya semata-mata rindu.

Bermalam-malam minggu kulewatkan dengan menunggu. Saat anak muda-muda lain dapat kencan berpasang-pasang sambil melagu yang manis-manis, saya disini pelihara rindu yang bertambah lapis demi lapis. Kumpulan suratmu yang dikirim jauh dari belahan bumi lain itu sudah jadi pustaka favoritku, menggantikan manapun karya-karya sastra ternama. Kemudian lanjut menungguku akan lanjutan surat berikut dan berikutnya. Saat anak gadis lain mengikih tersipu lagi suka pada bisikan sayang kekasih di telinga mereka, dimana napas hangatnya pun terasa juga membelai sukma, saya disini menanti telepon yang nyaring. Untuk suaramu barang semenit atau dua, sebab betapa mahal sapaan pendek kita. Betapa tidak cukup untuk mengirim rasa.

Tidak ada yang cukup lagi, kata-kata ataupun suara, kita perlu bertemu raga serta bertatap mata. Hangat jari-jarimu pada kulit tanganku lantas disusul senyum langkamu yang turut mengundang senyumku.
Ah, New York, New York! Apa kabarnya kota besar itu? Apa tetap kelap-kelip tanpa peduli ada rasa apa di hatimu terselip? Apa tetap spektakuler tanpa peduli air mata yang meluber?

Di Jakarta malam ini, hujan tumpah ruah tapi ia senantiasa meriah. Menelan sedih dan menyembunyikan pedih. Menyembunyikan rembulan sehingga tidak bisa kita beralasan “meski jarak bermil-mil, kita tatap bulan yang sama”, sebab saya mulai ragu bertanya-tanya apakah bedanya purnama di Jakarta dan New York.

Kunjunglah pulang, kamu. Bukan pulang ke Jakarta, namun pulang kepada saya.




CATATAN:
Surat ini (mungkin) ditulis Cinta pada suatu malam berbulan purnama saat Rangga ada di New York. Jeda 14 tahun membuat saya mengira-ngira apa saja yang mereka lakukan untuk mempertahankan rasa saat dipisahkan jarak, karena tentu yang kita saksikan di film hanya perpisahan dan pertemuan kembali. Akhirnya, saya tuliskan surat ini, saat berandai-andai menjadi Cinta beberapa bulan selepas menonton Ada Apa Dengan Cinta 2 (euforianya bahkan masih berlangsung saat itu!). Entah apa kita sanggup menjaga perasaan supaya tetap segar dan manis seperti kali pertama, walaupun sudah dilekang sekian lama tenggang, sedemikian jauh ruang.

0 komentar:

Post a Comment