Dada Merah

Watercolor art by Carmen Jimenez
Burung mungil cantik berdada merah, bersuara merdu itu tengah membisu. Terakhir kali ia mogok bersiul adalah ketika aku memintanya melompat ke jendelaku, alih-alih menampakkan kilasan bulu kelabu merah dari celah-celah pohon. Kukatakan bahwa ingin sekali aku menatapnya dari dekat, ingin melihat matanya yang hitam pekat, ingin melihat paruh yang seringkali mencuri kecup sebelum ia pergi melesat. Ternyata, aku menyinggungnya. Ia berpendapat aku hanya menganggapnya burung liar yang tidak berarti apa-apa. 

Ia menghentikan siul-siul indahnya seketika. Aku belingsatan berhari-hari, menunggunya bernyanyi lagi. Kupanggili sesekali, yang terdengar hanya suitan setengah hati. Saat itu, yang dapat kulakukan hanya duduk di jendela sambil menatap pohon tempatnya singgah. Kuserukan namanya, juga kumintai maaf sampai ia kembali. 

Aku tidak memberitahu siapa-siapa tentang burung mungil penyanyiku. Mungkin, karena aku takut orang akan menganggapku gadis yang aneh, menanti cerita dalam nyanyi-nyanyian burung kecil yang hanya sekelebat wujudnya kulihat. Sungguh, mereka tidak tahu betapa aku menikmati kisah-kisahnya. Apalagi, burung manis itu hanya bersiulan untukku. Setidaknya, itu yang ia bilang padaku, sebab ia mengasihiku. Aku memercayainya, atau dengan berani (apa nekat?) memercayainya. 

Ia berkisah tentang negeri yang tidak pernah cerah, pohon-pohon yang gemar mengomel, bahkan tentang lelaki patah hati yang mati terbakar kesedihannya sendiri. Ia menyatakan kekagumannya terhadap kelelawar, lantas selalu kubilang bahwa ia jauh lebih menggemaskan daripada makhluk malam itu. Selain penceritera yang baik, burung kecil itu juga pendengar yang baik. Ia dengan setia mendengarkanku bercerita tentang Sang Penjaga Mimpi dan Sang Penjaga Senyum, hingga hal-hal seremeh menu makan siang. Kelamaan, tak bisa disangkal aku pun jatuh sayang. Di jendela kamarku, kami berkasih-kasihan ditemani cahaya rembulan. Aku selalu menantikan saat-saat ia bersiul-siul penuh cinta memanggilku duduk manis di ambang jendela. 

Malam ini, seperti yang seringkali kulakukan tanpa sengaja, aku terlampau nyaman bersahutan kabar dengannya. Terlalu asyik menggodanya, hingga tanpa sadar ia berhenti bersiulan. Namanya kupanggili, memintanya kembali. Hanya siul-siul pendek menyayat hati yang terdengar, sementara semburat merah dadanya makin lama makin kabur di balik dedaunan. Sekejap kecup yang biasa tak dicurinya pula dariku. 

Bulan tampak tersenyum di pekatnya malam, ditingkahi gemintang yang jarang-jarang., tapi kecantikkan langit tidak membuatku tersenyum girang. Aku menyesali entah candaku sebelah mana yang mungkin salah. Ia burung manis yang perasa, sementara kepekaanku setumpul pensil patah. Betapa kami adalah kombinasi yang rumit, padahal satu-satunya perekat adalah kata-kata dan nyanyiannya, tanpa saling tatap, tanpa sentuhan nyata. 

Burung mungilku yang berdada merah tengah membisu, aku kembali merindu.

0 komentar:

Post a Comment