Aku, Fay, dan Seks


Meet Fay. Gadis SMA, pendiam, wallflower, dan penggemar berat buku-buku serta film. Ia tidak punya teman bicara, pun tidak bisa bertukar pikiran dengan keluarganya. Di sekolah, anak-anak membuat lelucon tentang bagian-bagian tubuhnya. Orangtuanya hanya memberitahu apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan sebagai perempuan, tanpa Fay tahu mengapa harus begini dan begitu. Fay baik-baik saja. Setidaknya ia pikir ia baik-baik saja dengan semua karakter fiksi yang bisa jadi teman setianya.

Sampai akhirnya Fay punya pacar. Satu-satunya teman yang mau mendengarkan ceritanya. Kekasih yang mau melihatnya, menyukai bagian-bagian tubuh yang dikatai oleh teman-temannya. Satu-satunya orang yang membuat Fay merasa cantik, seksi, dan berharga. Namun, juga membuat Fay bingung karena segala hal yang tertanam di benaknya soal bagaimana seorang perempuan seharusnya menjaga diri.

Aku bertemu Fay bulan lalu dan berusaha mengenalnya sedalam yang aku bisa dalam sepuluh hari. Ia hadir dalam pertunjukkan bertajuk Tubuhku 'Ni Siapa Punya? yang merupakan spektakel langkah 03 dari drupadi.id


Spektakel Langkah 03 "Tubuhku 'Ni Siapa Punya?" oleh drupadi.id. Jumat, 10 November 2017 di Equilibrium, Sersan Bajuri - Bandung
Sabtu kemarin, aku mendapat undangan dari drupadi.id dan ceritaperempuan.id untuk menghadiri dialog mengenai seks berjudul Know Yourse(x)lf di Lo.Ka.Si Coffee and Space, Bandung. Sebuah dialog yang sangat penting, karena bukankah seks sealami makan, minum, dan tidur, tapi seakan-akan begitu misterius dan penuh mitos akibat terlalu banyak ditutup-tutupi? Pembicaraan dan pendidikan seks yang utuh dan terbuka sangat jarang ditemui.

Secara singkat, Dialog Know Yourse(x)lf membahas empat hal utama: know your body, know your rights, know your consent, know your risks

Firliana Purwanti dalam diskusi Orgasm: The Right to be in Pleasure
Dalam sesi pertama, kami diajak untuk menceritakan bagian-bagian tubuh mana yang paling suka untuk disentuh dan mana yang tidak (oleh sendiri dan orang lain). Permainan ringan dan kocak tapi justru mencairkan kekakuan  menuju obrolan lain yang lebih "berat". Apalagi bahasan soal seks seringkali dianggap tabu. Selain itu, permainan ini juga membuat kita berdiam diri dulu, berlatih peka atas bagian-bagian tubuh kita.

Sesi kedua membahas pentingnya hak-hak kita dalam berhubungan. Sebagai perempuan, umumnya yang kita ketahui soal seks adalah bagaimana kita hanya boleh melakukannya dalam hubungan suami istri, menutup diri rapat-rapat hingga nanti pada waktunya menikah maka kita mesti memberikan "semuanya" pada suami. Jarang, jika bukan tidak ada, bahasan bahwa perempuan juga boleh menikmati seks. Perempuan juga boleh bilang apa yang ia suka dan tidak sukai dalam berhubungan, dan berhak bersuara untuk merasa nyaman. Perempuan seringkali hanya tahu cara menutup diri, tanpa mengenal apa yang kita tutup-tutupi itu.
Mbak Nophie dalam diskusi Know Your Consent: The Right to Protect Your Body

Sesi ketiga membahas mengenai consent atau persetujuan. Di mana hanya dengan adanya persetujuan dari kedua belah pihak, maka hubungan seks bisa dilakukan. Dilakukan seperti apa dan di mana batas-batasnya. Perempuan bukan hanya "melayani" suami, pun sebaliknya. Hubungan seks baru dilakukan secara benar jika kedua belah pihak (atau mungkin lebih, terserah), selama tidak menyakiti siapa pun, selama para pihak setuju soal apa, bagaimana, dan kapan hubungan dilakukan.

Sesi keempat membahas mengenai resiko-resiko yang mungkin terjadi akibat minimnya pengetahuan seks. Karena bagaimana pun, dorongan seksual betul-betul alami sebagai manusia. Menutup-nutupinya tidak lantas membuat dorongan tersebut menghilang, dan malah menimbulkan pandangan-pandangan yang keliru. Tentunya, kekeliruan akan menjerumuskan. Apalagi bagi anak-anak dan remaja yang sedang seru-serunya bereksperimen dalam hidup.

Setiap sesi diselingi permainan wayang tentang Drupadi dan kehidupan seksnya oleh Om Sudjiwo Tedjo, diakhiri dengan tari kontemporer.

"Kemben Drupadi" pertunjukkan oleh Sujiwo Tejo
Ferry dan Alexa dalam tari kontemporer yang menutup acara

Nyaman berada dalam tubuh sendiri
Feeling comfortable being in my own skin butuh waktu sendiri. Seperti Fay, aku sempat merasakan dikata-katai soal bibirku yang terlalu lebar, kakiku yang berbulu, juga kulit yang sempat dipenuhi jerawat semasa SMA. Belum lagi, aku menderita skoliosis, yang berimbas pada tidak tegapnya postur badanku. Perlu waktu untukku merangkul kekurangan fisik sampai akhirnya saat ini, aku merasa nyaman dan menganggap kekurangan-kekurangan yang tak dapat diubah sebagai bagian dari diriku. Identitasku. Tidak merasa terganggu akan perkataan orang. Aku belajar ini semua, salah satunya, dari seni pertunjukkan. Seni pertunjukkan membantuku memahami tubuhku, apa yang bisa dan tidak bisa lakukan dan bagaimana merasa nyaman dengan itu semua.

Belajar soal seks
Belajar tentang seks, atau setidaknya mengenal tubuh sendiri dan tubuh lawan jenis, bukan sesuatu yang asing bagiku. Sewaktu kecil, ayahku sekali-dua mandi bersamaku, hanya untuk memperlihatkan kalau laki-laki dan perempuan punya bentuk tubuh berbeda. Namun, setiap bentuk tubuh itu diciptakan Tuhan dengan indah. Jika ibuku sedang menstruasi, beliau akan mengajakku melihatnya mengganti pembalut. Beliau mengajarkan bagaimana cara membersihkan pembalut bekas dan cara mengenakan yang baru. Saat aku mendapat menstruasiku sendiri, aku cuma merasa excited, bukan panik atau cemas. Pada saat menstruasi pertama itu pula, aku diberitahu soal intercourse. Bagaimana karena suami-istri (dan hanya boleh dilakukan suami-istri, karena keluargaku berpegang teguh pada nilai-nilai agama) melakukannya maka mereka bisa dikaruniai anak. Bahkan, orangtuaku menawarkan untuk menonton film porno bersama kalau mau. Sekali lagi, bukan apa-apa. "Biar gak penasaran-penasaran banget terus malah salah." kata mereka. Maka, rasa penasaranku tentang hal-hal seksual sesungguhnya terarah. Mencari tahu sendiri di internet dengan teman-teman dan membahasnya rasanya bukan hal aneh, tapi selebihnya pengetahuan awal dari keluarga cukup membantuku sebagai langkah awal untuk tahu apa yang harus kucari tahu.

Reaching The Big O
Orgasme secara sempit bisa diartikan sebagai puncak kenikmatan dari hubungan seks. Keluarnya sperma laki-laki dibilang menjadi apa yang menjadi penanda orgasme. Lagi-lagi, orgasme pada perempuan jarang sekali dibahas padahal perempuan, seperti sudah dipaparkan diatas, berhak pula atas kenikmatan seksual.
Kenikmatan, atau puncak, pada akhirnya hanya akan dapat diraih ketika kita mengenal diri kita dengan baik. Dalam hal berhubungan seks, hanya dengan mengenal tubuh kita, percaya dengan pasangan kita, maka orgasme bisa diraih.

Bagiku pribadi, yang masih dalam perjalanan soal dengan siapa dan kapan aku akan melakukan hubungan seks pertama kali, konsep kenikmatan puncak pada akhirnya kutemukan lagi dalam seni pertunjukkan.
Mengenal karakter, dalam hal ini kita misalkan Fay, memasuki mereka dan membiarkan  mereka memasukki ragaku. Aku dan Fay nyaris serupa, perbedaannya adalah: aku memiliki keluarga dan teman-teman yang mendukung dan mendengarkan, Fay tidak. Di awal aku selalu bilang Fay bodoh dan polos, tapi lama-lama aku tahu bahwa Fay cerdas. Bagaimana tidak, she's a cultured girl. Membaca begitu banyak buku dan menonton begitu banyak film. Ia tahu apa yang ia mau namun semata-mata takut. Rasa percaya dirinya tergerus habis oleh lingkungan, dan pada akhirnya kekasihnya menumbuhkan kepercayaandirinya, sesungguhnya ini bukan soal cinta. Ini soal Fay dan tubuhnya. Dan kemirisan bagaimana ia butuh orang lain untuk merasa nyaman menempati tubuhnya sendiri.

Sepuluh November, Fay berada dalam tubuhku, dan tugasku menceritakan kisahnya diatas panggung. Lampu sorot, kostum, orang-orang yang rela menembus hujan demi pertunjukkan kami. Itu orgasme bagiku.

Pada akhirnya, mengenal tubuh sendiri hingga setiap lekuk dan sentinya, memegang kendali atas tubuh sendiri dan apa yang mau kita lakukan dengan tubuh itu adalah suatu perjalanan spiritual yang panjang. Hanya dengan mengenal tubuh dan diri sendiri maka kita punya nilai. Nilai tidak ditentukan oleh perawan-tidaknya seorang perempuan, atau seberapa banyak perempuan yang bisa ditaklukan oleh seorang lelaki. Hanya dengan mengenal tubuh dan diri sendiri maka kita bisa menghargai pasangan (dan orang lain), serta tahu batas-batas mereka dan kita sendiri. Kita bisa punya kekuatan untuk menyatakan pilihan dan memanusiakan diri. Hanya dengan mengenal tubuh dan diri sendiri, maka jiwa, raga, dan pikiran dapat setuju soal satu hal: jalan mana yang harus ditempuh dengan segala konsekuensinya.

Terimakasih, drupadi.id dan ceritaperempuan.id atas undangannya. Dialog yang sungguh menarik dan membuka wawasan. Aku berharap bisa mengajak Fay ke sini. Atau setidaknya, semoga kita bisa jadi teman untuk Fay-Fay lain diluar sana. Menjadi tempat aman dan nyaman untuk belajar soal tubuh dan diri sendiri. Soal apa yang bisa dilakukan seorang perempuan sebagai manusia.



Catatan:
*Para pembicara yang hadir dalam dialog "Know Yourse(x)lf antara lain: Firliana Purwanti (Penulis The O Project), Ayu Oktariani (Ikatan Perempuan Positif Indonesia), dan Elisabeth Dewi (Jaringan Mitra Perempuan Bandung dan Pengajar di FISIP UNPAR).
*Penampil antara lain Sujiwo Tejo, Alexa Danielle, dan Ferry Cahyo Nugroho.
*Terimakasih kepada Kennya Rinonce, untuk segala obrolan selama ikut-ikutan meramaikan drupadi.id dari Spektakel 01, sekali lagi untuk kesempatan menjadi Fay, dan untuk dialog ini.
*Terimakasih kepada Ayesha Avanti yang sudah repot-repot menghubungi dari jauh hari untuk kirim undangan.

Info lebih lanjut soal drupadi.id dan cerita perempuan dapat di cek di Instagram @drupadi.id dan @ceritaperempuan.id

0 komentar:

Post a Comment