Kencan di Bioskop

Sebastian (Ryan Gosling) & Mia (Emma Stone) in La La Land (2016) dir. Damien Chazelle


Aku memejamkan mata sambil menarik napas panjang. Aroma mentega dan karamel dari popcorn yang meletup-letup memenuhi hidungku. Dari semua tempat yang mungkin jadi destinasi “kencan” kita, bioskop adalah pilihan terakhir. Namun, setelah mengelilingi kota dalam hening, di sinilah aku duduk di lobby bioskop, dengan kepala terletak di bahumu.

Kita bukannya tidak suka menonton. Kita justru terlalu cinta sinema, sehingga saat sendiri, aku suka mencuri-curi sejam-dua untuk sebuah film di bioskop. Kamu? Tak usah ditanya, kamu IMDb berjalan pribadiku, dengan rating yang lebih akurat soal mana film yang bagus dan mana yang sampah.

Ini hari Sabtu, hari yang tak akan kupilih untuk menonton karena tiketnya mahal dan selalu terlalu banyak orang. Jelas hari yang paling mungkin untuk kamu libur menonton atau membicarakan film. Maka, alih-alih berada di auditorium yang gelap, kita menatapi orang-orang lalu lalang dan mengantri untuk tiket yang harganya dua kali lipat dari hari biasa.

"Kita beruntung." Katamu tiba-tiba.

"Karena?" Tanyaku

"Karena aku tidak perlu antri dan bayar untuk sebuah film. Karena kamu begitu cintanya pada tempat ini sehingga selalu punya waktu luang."

"Jangan sampai pekerjaan mengganggu acara menonton."

Kamu tertawa setengah hati, menempelkan pipi di puncak kepalaku sebelum lalu mengecupnya sekilas. Aku memejamkan mataku lagi. Jika cerita kita juga adalah sebuah film, maka ia harus ada akhirnya. Pikiran itu cukup untuk membuat dadaku panas. Aku bangkit dari bahumu sambil menghembuskan napas keras-keras.

Kamu menatapku, tersenyum kecil. Tanganmu bergerak ke kepalaku, membelainya, lantas memalingkan wajah ke arah antrian yang makin memanjang. Aku tersenyum lebar, meraih tanganmu dan memainkan jemarinya. Setengah mati menahan air mata tumpah, sekuat tenaga menyamarkan sedih. Kamu paling benci melihatku dikoyak pedih, tapi aku selalu jadi penyebab sakit hatimu sampai kamu letih. Lalu akhirnya, kehati-hatianmu menjaga perasaanku, untuk tidak meledak marah, malah menyesakkan kita berdua.

Segerombolan orang lewat di hadapan kita, satu film baru saja selesai dan mereka baru saja keluar dari teater. Aku menunduk, menatapi jemarinya yang terkulai pasrah diantara jari-jariku.

“Kita... mau jalan keluar teater juga, love?” Bisikku nyaris tak terdengar, “Film tentang kita... sudah habis?”

Jari-jarimu meremas erat tanganku. Kamu berbisik, sama lirihnya, “Aku selalu sayang kamu.”

Isak tangis sudah tiba di ujung tenggorokanku. Jika tidak ingat bahwa kita ada di tempat yang begini ramai, jika tidak ingat bahwa aku tidak akan sanggup melihat perih di matamu setiap kali kamu melihat air mataku, mungkin tangis ini sudah melolong keluar. Melengking pilu dan menyayat hati orang yang mendengarnya.

Kamu tentu saja tahu bahwa aku adalah gadis yang cengeng luar biasa, maka kamu cepat-cepat mendekap kepalaku. Entah berapa kali kamu mengusap pipiku sebelum menarikku kedalam rengkuh hangatmu setiap salah satu film Disney Pixar usai. Setiap kali aku melihat anak kucing mencari sarapan. Setiap kali aku tersandung meja atau pun kursi, sebab selain cengeng, aku pun sungguh-sungguh ceroboh.

Cengeng, cerewet, ceroboh. Juga tidak pernah berhasil menyayangimu dengan cara yang tepat.

Tapi tidak sedetik pun kamu berhenti menyayangiku.

Tiba-tiba aku tahu mengapa kita berakhir di bioskop. Tempat ini selalu jadi tempat berlindung yang aman untukku. Karpet merah, aroma popcorn, AC yang kelewat dingin, derit mesin minuman, pengumuman dengan suara khas Ibu Maria Oentoe, poster-poster film yang sedang tayang, akan tayang, atau tidak akan pernah tayang, dan tentu saja teater-teater besar dan gelap yang menjadi portal ke dunia lain. Di “kencan” kita yang aneh ini, yang lebih mirip detik-detik menuju credit title dari sebuah film drama romantis tanpa akhir bahagia, kamu masih berjaga-jaga jika aku ingin lari. Kamu sudah membawaku ke tempat perlindunganku.

“Kalau cerita kita ini sebuah film, aku akan lebih memilih kita jadi serial televisi saja. Panjang. Bermusim-musim. Tidak pernah berakhir.” Kataku pelan.

Kamu masih diam. Hanya mengecup ubun-ubunku sekilas sambil terus mengusap-usap kepalaku.

“Mungkin kita jadi serial anime atau manga saja.” Gumamku lagi, “Detective Conan! Iya, sudah lebih dari seribu chapters dan dia belum akan jadi Shinichi, bahkan sekarang.”

Kamu mendenguskan tawa kecil. Aku menggigit bibir, mendaratkan kecup di dadamu. Kamu masih belum mau bicara.

“Film itu.” aku menunjuk salah satu poster di bagian Now Showing, alasan orang-orang sibuk mengantri di akhir pekan, “Belum aku tonton, tapi kalau kamu mau membocorkan ceritanya, asal kamu bicara, aku mau dengarkan.”

Kamu memegang kedua pipiku, menghadapkan wajahku ke wajahmu, menatapku dalam-dalam. Sebuah kecup mendarat di bibirku. Lama. Sehangat yang biasa kamu berikan.

“Yuk, tonton sekarang.” Kamu berdiri, tanganmu terulur, "Aku mau nonton lagi, denganmu."

Aku menatap panjang antrian yang sanggup membuat ksatria paling gigih menyerah, lalu menatapmu tidak percaya.

“Sekali-kali. Kita pacaran seperti orang normal.” Kamu memandang poster yang didominasi warna putih dan merah itu, “Lagipula, siapa yang tahu... the force might be with us.”

Aku menatap senyum kesukaanku di bibirmu, menyambut uluran tanganmu. Tidak ada yang tahu apa kita akan selesai hari ini atau bermusim-musim kemudian tanpa menunjukkan tanda-tanda akan tamat. Aku tidak tahu, pun dalam hatimu, kamu tidak tahu. Kita cuma tahu pasti soal apa yang kita rasa, sambil tertatih-tatih menerjemahkannya untuk satu sama lain.

0 komentar:

Post a Comment