Surat yang Ditulis di Pemberhentian Bus Tua Tak Fungsi

Batman Volume 3 #15

Fiacro,

Bagaimana petualanganmu? Sudah berhasil menjaga senyum orang-orang tersayangmu? Aku harap kamu ada di sini, menjaga senyumku yang mulai sering hilang. Walaupun aku ragu kamu bisa menjaganya.

Aku ingin menceritakan kabar. Pasti kamu bertanya-tanya, masihkah aku mengingatkan orang untuk tetap bermimpi? Jawabannya masih. Namun sungguh, aku tak tahu apakah aku masih bisa menghidupkan mimpi. Aku baru saja kehilangan separuh diri.

Suatu hari, aku duduk di sebuah pemberhentian bus. Tempat itu sudah berhenti fungsi, tidak ada lagi bus yang berangkat atau tiba. Pemberhentiannya kosong dengan tiang-tiang penyangga termakan karat. Ketika itu, aku baru bangkit dari sebuah sakit yang nyaris membuatku lupa soal tugas hidup untuk bermimpi, Fiacro. Maka aku duduk di pemberhentian bus tua tak beroperasi. Bukankah pemberhentian bus, seperti halnya stasiun dan bandara, adalah tempat sesuatu dimulai dan selesai? Aku baru saja usai bersakitan dan benar-benar pulih untuk mulai dari pertama. Di sanalah aku bertemu dia, Fiacro.

Dia sama sekali tidak tampak sepertimu. Ia punya sepasang mata hitam kecil yang berbinar, terutama saat membicarakan hal kesukaannya (suatu hari dia bilang mataku bulat dan besar penuh keajaiban, tapi kurasa itu karena saat itu aku sedang menatapnya), kulitnya putih susu walaupun tidak seterang kulitku (pernah dia bilang kalau kulitku sedikit gelap mungkin akan lebih cantik, tapi lalu katanya nanti aku bukanlah aku lagi), rambutnya hitam bergelombang dan agak berantakan, terutama saat sudah kepanjangan (berkali-kali dia bilang rambutku lebih manis dipotong pendek daripada menjuntai ke pinggang, tapi malah dia yang malas pergi ke tukang cukur). Kamu tebak pasti dia punya garis rahang tegas dan tulang pipi tinggi, ya kan, Fiacro? Namun tidak, pipinya bulat menyatu dengan rahang dengan tulang pipi yang tak kasat mata. Sepasang pipi yang sungguh senang aku cubiti.

Ia datang dari sebuah kota yang memperingati hari lahirnya sehari setelah aku berulang tahun. Ia jarang sekali berbicara tentang kota itu, ia lebih sering bercerita soal sebuah negeri yang selalu berawan. Ah ya, salam darinya untukmu, Fiacro. Dia sempat bilang ingin mengenalkan para penghuni negeri itu dengan kita. Aku juga pernah bercerita tentangmu padanya, Fiacro. Ia pencerita yang jauh lebih baik dariku, meskipun cerita-cerita itu jarang sekali tentang dirinya dan lebih banyak tentang isi kepalanya. Kamu tidak tahu aku mudah sekali menangis, kan, Fiacro? Aku banyak sekali menangis bersamanya, bukan karena ia sering membuatku sedih. Namun karena dengannya aku telanjang. Polos tanpa poles. Rentan dihancurkan. Sebesar itu percayaku padanya.
Di hadapanmu, Fiacro, aku setangguh tebing yang dihantam ombak pasang. Di hadapannya, aku cair. Aku ombak yang pasang lantas surut karena gravitasi bulan. Baginya, aku Sang Rembulan.

Di hadapanku, ia menampakkan versi terbaik dirinya. Ia burung penyanyi berdada merah yang menyapa setiap pagiku dan juga pelantun nina bobokku. Sungguh, nyanyiannya lebih indah dari burung-burung di padang dandelion dekat rumah nenekmu, Fiacro. Ia tidak mau aku tahu terlalu banyak tentang perasaannya, sebab perasaan itu tidak semuanya menyenangkanku. Padahal aku tahu jika ada yang salah. Aku tahu sakit, takut, dan marahnya. Ia akan pergi beberapa waktu dan menjadi bisu hanya agar aku tidak perlu menerima luapan rasanya yang meledak-ledak. Lalu aku menunggu.

Menunggu. Menunggu. Menunggu. Menunggu. Menunggu. Menunggu. Menunggu. Menunggu. Menunggu. Menunggu. Menunggu. Menunggu. Menunggu. Menunggu. Menunggu. Menunggu. Menunggu. Menunggu. Menunggu. Menunggu. Menungg....

Ia selalu kembali pada akhirnya dan aku tidak sampai hati bertanya kemana ia pergi. aku selalu ingin memberitahunya bahwa ia tidak perlu menjadi versi terbaiknya di depanku. Ia cukup menjadi dirinya. Baiknya. Buruknya. Tidak pernah aku akan membenci karena celanya. Fiacro, bantu aku, jika kamu kebetulan bertemu dengannya sampaikanlah ini kepadanya. Sebab aku tidak tahu kapan lagi aku punya kesempatan berbicara padanya.

Fiacro, sekarang kamu tahu bahwa ia sangat luar biasa, kan? Aku tahu kamu akan berpikir begitu. Sayangnya, kupikir ia tidak cukup percaya diri. Ia tidak cukup percaya diri sehingga aku seorang tidak cukup untuk mengisi lubang di hatinya. Hatinya yang demikian perasa dan hangat. Entah apa yang pernah terjadi kepadanya, entah siapa yang mengoyaknya. Ia tidak cukup percaya diri sampai lubang itu harus diisi dengan lebih dari aku.

Untuk pertama kalinya, aku geram dan gusar. Jangan terkejut, Fiacro. Hanya karena kamu selalu melihatku punya begitu banyak senyum untuk dibagi, jangan kira aku ibu peri. Aku manusia biasa. Perempuan jatuh cinta (hentikan senyum gelimu itu, Fiacro!). Aku mungkin bukan pendendam, tapi untuk sekejap itu aku murka hingga tak mengenal diriku sendiri. Aku menyiksanya, Fiacro. Aku menghajarnya dengan caci maki dan pertanyaan-pertanyaan yang selalu kusimpan sendiri. Kamu tahu betapa besar aku mempercayainya, betapa hancur aku saat kepercayaan itu ditikam dengan kenyataan brutal.

Namun aku pelan-pelan mengumpulkan diriku sendiri, yang walaupun belum berhenti berdarah, tapi sudah selesai menyumpah. Aku sakit, tetapi lebih sakit melihatnya sekarat. Terakhir kudengar suaranya bergetar menahan isak sekaligus sesak dan karenanya aku tersayat-sayat. Aku menulis ini padamu sambil memutar ulang semua yang telah kulalui bersamanya, kupikir aku betul-betul paham. Kukira aku mengerti alasan-alasan yang tak bisa ia ungkapkan padaku. Kepercayaan yang telah compang-camping itu belum rusak, masih ada kesempatan memperbaikinya.

Jangan Fiacro, jangan sebut dia pembohong atau penjahat. Siapa pun yang tidak kenal kejujuran tidak bisa menjadi pencerita yang baik. Pemilik hati yang begitu hangat dan peka tidak mungkin jahat. Oh Fiacro, berkenalanlah dengannya supaya kamu tahu. Supaya kamu bisa bilang padanya bahwa bahkan sekarang aku tidak sampai hati membiarkannya.

Aku menulis ini di pemberhentian bus tua tak fungsi tempat kami pertama bertemu, Fiacro. Pemberhentiannya kosong, ia tak ada di sini. Aku pernah berjanji padanya bahwa aku tidak akan pernah membiarkannya menunggu di sini sendirian. Namun aku telah menjanjikannya satu hal lagi: pergi selamanya. Menurutnya, kami tidak bisa lagi untuk bahkan sekedar berteman. Aku pergi karena ia menjanjikan satu hal terakhir kepadaku: baik-baik saja dan bahagia jika aku pergi.
Jangan bersedih untukku, Fiacro. Kamu tahu aku seorang penjaga mimpi. Kamu tahu aku akan mendapat cara untuk menjadi penuh lagi. Aku tidak bilang aku baik-baik saja saat ini. Aku belum lagi utuh dengan ia membawa diriku yang separuh. Tapi tidak apa-apa, ia akan baik-baik saja jika tak mengenalku lagi. Satu janjinya yang terakhir, aku percaya.

Dia pernah mendengar tentang kita, Fiacro. Ia akan mengenalmu saat kalian bertemu. Ceritakan aku soal negeri yang tidak pernah cerah beserta para penghuninya itu suatu hari. Dia akan kenalkan padamu. Jaga dia untukku, seperti aku menjaga mimpi dan harapan. Bantu aku menjaga harapannya yang besar. Terpenting, jaga senyumnya, karena bukankah itu tugasmu?
Ini terakhir kali aku datang ke perhentian bus tua tak fungsi ini. Bukan berarti aku tidak akan sekedar lewat. Aku mungkin akan banyak menyeruput kopi di kedai seberang, mataku tak akan meninggalkan jendela untuk menatapi tempat usang ini. Siapa tahu suatu hari dia datang lagi dan menungguku? Aku sudah janji tak akan membiarkan ia merindu, akan segera aku berlari menghampirinya.


Salam,


Fansa.

0 komentar:

Post a Comment