Ketika Waktu



Suatu siang yang tengah bertemu petang, Waktu menemukan kita.
Kita di tengah percumbuan panas: hangat kulitku, sungging senyumku, alunan tawaku, pijar mataku, memenuhi setiap inci ruang sistem limbikmu. Sebelum kata-kata menyentuh bibirmu, aku sudah lebih dulu paham sehingga saat mulutmu disibukkan oleh serangan mulutku, kita masih dapat selaras.

Kita tahu bahwa mengelabui Waktu adalah mustahil. Sepandai apa pun kita berkelit, betapa pun rumit tipu muslihat yang kita lancarkan, kemenangan kita terhadap Waktu adalah nihil. Maka kamu menolak saat kumohon untuk membawa hatiku pergi. Pintamu: ketika Waktu menyergap kita,  bawa sendiri hatimu untuk disimpan baik-baik lantas dititipkan kepada lelaki yang mendapat restu dari Waktu. Lidahku kelu. Masa depan bagiku, Sayang, biarlah bayang-bayang dan jangan kamu terawang. Aku ingin melupakaan kenyataan bahwa Waktu menggeledah kebersamaan kita.

Mataku lempar kerling pada hati yang ada disela-sela jemarimu. Hati merah segar, ototnya berdenyutan kuat dengan buncahan kasih. Mata kita tatap langit malam berkelipan gemintang, diam-diam mengharap degup hati kita cukup kuat untuk meledak dan melesat ke angkasa. Benderang selamanya. Meningkahi Waktu.

Suatu siang yang tengah bertemu petang, Waktu menemukan kita. Kita di tengah percumbuan panas: taut terakhir bibir dan jari-jari kita. Dekap terakhir aman lenganmu menahan tubuhku (tungkai kakiku gemetar hebat, lelah berlari tapi ketahuan juga). Tutur matamu yang redup yang masih mengancamku berjanji untuk jatuh cinta sekali lagi. kamu kembalikan hatiku. Lidahku batu. Hati itu menghitam kisut. Denyutnya perlahan melayuh, entah kapan kembali berlabuh.

**
Bandung, 4 Mei 2018


0 komentar:

Post a Comment