Bisik-Bisik Bantal


Aku ingin bertanya pada bantalmu,
apakah ia suka membisik-bisiki rindu pada telingamu yang dalam dan peka, 
dari malam-malam di mana kamu terlalu lelah untuk memelukku.
Lalu kupeluk bantalmu, yang 
menyimpan aroma rambutmu yang rimba, berpura-pura itu adalah kamu.
Pada malam-malam itu, bantalmu kuyup
mataku menderaskan rindu
di tengah kelam, menolak pejam.

Cerita-cerita mereka soal kangen yang tak pernah tiba di telinga (apalagi hati) kekasih, 
soal rindu yang tak sempat melewati tenggorokan (apalagi kedua lenganmereka tak berani merengkuh), sungguh tak dapat kupahami.
Karena bagiku, rindu mesti terdengar dulu
oleh debu di atas nakas, oleh dengung kipas, 
oleh ranjang yang ditingkahi derit pegas. Bebas. 
Selama ia tidak mengerak lantas tewas dan ikut membunuh pemiliknya, tanpa sempat lepas berlari mencumbui bibirmu.

Malam ini, bantalmu lagi-lagi menampung rindu
yang diam-diam kupeluk, kuajak pura-pura jadi kamu.
Mungkin dia akhirnya tak mau lagi bersimbah air mataku, bosan, lalu berpesan:
Entah siapa yang akan mati duluan, 
aku yang kehabisan napas terlalu banyak dipeluk kuat-kuat meredam sendu,
atau kekasihmu yang megap-megap terlalu sibuk menahan rindu.



Bandung, 11 Juni 2018. 2.35AM.



0 komentar:

Post a Comment