Pahlawan dan Si Kucing


Batman Rebirth (2016) #15
Satu-satunya permintaan yang pernah aku utarakan pada kau dengan lantang adalah aku ingin melihat langit bersama kau. Langit malam yang jernih, tepatnya, karena aku terobsesi pada pekat angkasa yang dilukisi kelip bintang apalagi jika ditambah purnama. Tentu saja aku tidak akan menolak sore hangat ketika langit masih biru muda digantungi awan-awan putih berbentuk kelinci gendut dan gajah berbelalai, atau jika langit sedang berdarah jingga mengekspresikan pertemuan sesaat cahaya dan kegelapan yang sendu itu. Kau telah berjanji suatu ketika akan memenuhi inginnya aku itu.

Malam pada saat akhirnya kau sanggup memenuhi janji, langit hitam polos tanpa kehadiran satu bintang pun rembulan sebab di kota ini lampu jalan dan gedung-gedung meriah, namun udara terlampau cemar. Kau akan terlalu sibuk untuk pulang ke kota kelahiran dan kota yang aku sebut rumah terlalu dingin sehingga aku pasti bersin-bersin. Kita akan rebah berdampingan di bubungan atap pencakar langit dengan kepala aku di dada kau, mendengar jantung yang meletup-letup sinyal ketakutan, kepasrahan, dan kenyamanan bergulung jadi satu. Lantas kau salurkan semuanya dalam bentuk dekapan karena emosi-emosi itu hanya berarti kau terlalu jatuh sayang pada aku.

Aku membisiki nama kaubukan 'Sayang' sebab orang akan mengira kita sepasang kekasih padahal nyatanya kita hanya sepasang yang saling mengasihi, bukan pula nama kecil kau yang aku reka seenaknyasuku kata terakhir nama depan diulang dua kali. Kau sapukan anak rambut dari kening aku sambil sesekali turut pula mendaratkan kecup. Telunjuk aku menyusuri garis bibir kau, yang selalu kujanjikan ciuman pertama dari awal mula aku memutuskan yakin kepada kau seyakin aku pada terbit matahari esok pagi.

Aku memandang wajah kau yang tersembunyi bayang-bayang. Kau memang selalu sedikit terhalang bayang-bayang, namun mata aku seperti dapat bercahaya dalam gelap sehingga aku dapat melihat ke dalam kau. Aku tahu dibalik tangguh itu, di belakang kedua mata hitam kau yang kukuh serta kepala yang keras dan pernyataan tegas, ada hati yang lirih peka, yang mampu mencinta tanpa kebas. Bersembunyi di balik kalimat-kalimat pedas kau selalu ada kasih yang menderas.

Senyum tipis muncul di hati aku yang teriris, kau seperti diaPahlawan yang super bukan karena topeng dan jubah hitam atau kekuatan, tapi justru karena dia semata-mata manusia. Manusia dengan hati dan maksud mulia tetapi memeluk gulita dalam identitasnya, yang tampak selalu dingin padahal mampu mengingat setiap lekuk kotanya yang menyesakkan dengan sentimen. Diam-diam aku membacai juga sedikit kisah-kisah pahlawan-pahlawan itu tanpa kau suruh, karena selain aku terlalu sering kangen kau, kisah-kisah itu heroik dan sarat harapan. Seperti sekarang, apalagi yang aku punya selain harapan tak berkesudahan soal cerita kita. Harapan yang membuat aku tidak kuasa beranjak dari pintu kau seperti kucing mandiri yang penyabar dan manja di teras rumahku, diam di keset tanpa berani minta izin masuk.

Kau menunduk, menatap aku kemudian menghela napas sebelum menciumku (lagi). Mungkin kau membenci diri kau yang tak bisa berhenti mengasihi aku tapi juga tak bisa mulai percaya lagi kepada aku. Aku sadar meskipun bukan kriminal yang telah membunuh ratusan orang, aku membunuhmu. Pikiran aku sudah begitu putus asa sehingga bisa-bisanya aku harap ada kehidupan lain di mana kita cerita berjalan mulus tanpa hambatan, menua dan beranak tujuh. Dalam cerita-cerita pahlawanmusemestanya yang mega telah dibangun begitu lamaPahlawan dan Si Kucing berkali-kali punya kesempatan bersama dan tidak bersama.

Malam mulai pudar dan langit kelam kental itu berubah biru tua. Aku masih iri dengan kisah-kisah hubungan Pahlawan dan Si Kucing itu, yang meskipun tidak jelas dan tidak perlu dinamai pun masih punya kesempatan mendapat akhir bahagia. Kau bilang waktu telah begitu larut dan semua terlambat diperbaiki. Aku bangkit dari pelukmu dan mencium hidung kau, tertawa kecil. Malam sudah selesai meluluh, ia mulai meluruh. Aku yakin Mentari tengah memanaskan kendaraannya untuk memulai hari. Kita ada di permulaan. Ah kau. Kau yang selalu mengira sebaliknya. Kau selalu kira aku yang menangkapmu padahal kau yang tangkap aku.

Aku seharusnya cukup berani bertanya: Apakah kita ini jika tak dapat lagi dikatakan sebagai sepasang yang terikat?
Jawab kau seharusnya lebih berani daripada sekedar: Kisah serta cinta kita terlalu pekat namun mustahil kembali direkat.
Kita mestinya cukup berani untuk beranjak pergi atau mencoba saling kembali, cukup bernyali untuk menyerah sama sekali atau sekali lagi saling memberi dengan cara-cara yang tidak menyakiti.


Aku melompat dari pencakar langit, masih dengan harapan kau yang akan menangkap di bawah sana, atau setidaknya mengejar. Jika tidak pun, bukankah belum pernah kau mendengar soal seekor kucing yang patah kaki karena melompat terlalu tinggi? Pun sejauh yang aku tahu, jarang ada cerita soal kucing yang tak mampu bertahan sendiri.


0 komentar:

Post a Comment